oleh

Jelang Putusan Prapid Marulitua Lumbanraja, Kuasa Hukum: Penetapan Tersangka Cacat Hukum

Linktodays.com – Balige. Menjelang agenda putusan sidang Permohonan Praperadilan Marulitua Lumban Raja selaku pemohon melawan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Samosir selaku termohon, yang akan digelar pada Senin (20/12/2021) mendatang.

Tim kuasa hukum Marulitua Lumban Raja berkesimpulan, tindakan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Samosir menetapkan Marulitua Lumban Raja sebagai tersangka tindak pidana korupsi adalah cacat hukum, sehingga harus dibatalkan. Penegasan itu disampaikan dalam konklusi, pada sidang Praperadilan Nomor 4/Pid.Pra/2021/PN Blg, di Pengadilan Negeri Balige, pada Jumat (17/12/2021) kemarin.

Daulat Sihombing, SH, MH, Board Executive sekaligus Advokat Sumut Watch. Foto: Istimewa.
Daulat Sihombing, SH, MH, Board Executive sekaligus Advokat Sumut Watch. Foto: Istimewa.

Ketua tim Daulat Sihombing, SH, MH bersama anggota tim Martua Henri Siallagan, SH, dalam konklusinya, menguraikan point-point penting yang terungkap selama proses persidangan seperti bukti surat dan keterangan ahli, dikaitkan dengan materi dalam permohonan praperadilan.

“Dari uraian tersebut tim kuasa hukum berkesimpulan, permohonan praperadilan ini sangat berdasar menurut hukum, sehingga sangat patut untuk dikabulkan, dan secara hukum, Marulitua Lumban Raja harus dibebaskan.” Tegas Daulat Sihombing dalam siaran Persnya yang diterima Redaksi media ini, pada Minggu (19/12/2021).

Enam Point Konklusi

Merujuk kepada dalil permohonan, tim kuasa hukum Marulitua Lumban Raja menyusun enam point sebagai konklusi dalam praperadian ini. Pertama, tentang pemohon ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan hasil audit BPKP, bukan berdasarkan hasil audit BPK. Hal ini bertentangan dengan ketentuan UU BPK juncto SEMA RI Nomor : 4 Tahun 2016, yang menyatakan, instansi yang memiliki kewenangan konstitusional menyatakan ada tidaknya kerugian keuangan negara adalah Badan Pemeriksa Keuangan. Sementara instansi lainnya seperti Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan, Inspektorat, dan atau Satuan Kerja Perangkat Daerah, hanya berwenang memeriksa dan mengaudit, namun tidak berwenang menyatakan adanya kerugian keuangan negara.

Kemudian, tentang termohon tidak menyerahkan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) kepada pemohon, tim berkesimpulan bahwa tindakan itu adalah cacat hukum. Hal ini melanggar ketentuan Putusan MK Nomor 130/ PUU – XIII/2015, tanggal 11 Januari 2017, diktum 1, point 1.3 dan 1.4 yang memutuskan, Pasal 109 ayat (1) UU RI No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945 secara bersyarat dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang frasa “penyidik memberitahukan hal itu kepada penuntut umum“ tidak dimaknai “penyidik wajib memberitahukan dan menyerahkan surat perintah dimulainya penyidikan kepada penuntut umum, terlapor dan korban/ pelapor dalam waktu paling lambat tujuh hari setelah dikeluarkannya surat perintah penyidikan”.

Selanjutnya kata Daulat, pihaknya tetap menegaskan bahwa termohon tidak cukup bukti untuk menetapkan pemohon sebagai tersangka, karena tidak memiliki bukti permulaan yang cukup sebagaimana bukti yang diatur dalam Pasal 184 KUHAP.

“Bukti surat termohon berupa Laporan Hasil Perhitungan Kerugian Keuangan Negara dari BPKP Propinsi Sumatera Utara Nomor : Nomor : SR-41/PW02/5.1/2021, tertanggal 27 September 2021, patut dinyatakan tidak memenuhi syarat sebagai bukti surat untuk menyatakan adanya kerugian negara. Sebab, yang berwenang untuk menyatakan adanya kerugian keuangan negara adalah BPK.” Kata Daulat.

Hal berikut yang ditekankan dalam penyampaian konklusi tersebut yakni tentang pemeriksaan pemohon. Sejak termohon menerbitkan Surat Perintah Penyidikan tertanggal 22 Juni 2021 hingga menetapkan pemohon sebagai tersangka tertanggal 10 November 2021, pemohon sama sekali tidak pernah didampingi penasehat hukum.

Hal ini kata Daulat, bertentangan dengan ketentuan Pasal 52 juncto 54 juncto 56 KUHAP. Tim kuasa hukum juga menegaskan, perbuatan pemohon murni merupakan hubungan keperdataan, dan penetapan pemohon sebagai tersangka merupakan tindakan kesewenang-wenangan dan bertentangan dengan asas kepastian hukum.

Berdasarkan hal itu tegas Daulat, pihaknya berkeyakinan bahwa hakim yang memeriksa perkara ini akan mengabulkan permohonan praperadilan ini.

Baca Juga: Kapolri Rotasi Sejumlah Jabatan Kapolres di Wilayah Hukum Jabodetabek

Baca Juga: Tak Kenal Lelah, Kapolres Bersama Dandim Simalungun Dihari Libur Tetap Laksanakan Vaksin Di Ponpes An-Nur

Baca Juga: Daulat Sihombing Terpilih Menjadi Ketua DPC Peradi Siantar-Simalungun (RBA) 2021-2026

“Karena, segala bukti yang diajukan pemohon dan termohon, dikaitkan dengan keterangan ahli para pihak, sangat berdasar untuk menyatakan tindakan Kepala Kejaksaan Negeri Samosir menjadikan Marulitua Lumban Raja sebagai tersangka adalah cacat hukum.” Ungkap Daulat.

Dalam persidangan ini, pemohon menghadirkan ahli hukum pidana Dr.Edi Yunara, SH, M.Hum dan ahli Pengadaan Barang dan Jasa Ir. Victor Ganda Sinaga, M.Eng, SC. Semenatara, pihak termohon menghadirkan ahli pidana Prof. Dr. Mahidin Gultom, SH, M.Hum. (Tim/Red)

Komentar

News Feed